Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2020

Manaqib Al-Habib Abdul Qadir bin Alwy Assegaf (Tuban)

Gambar
  Angin Segar dari Kota Tuban Auliya’ ini dikenal banyak membawa angin segar bagi umat, terutama di kota Tuban dan sekitarnya. Para auliya’ di jamannya banyak memuji dan mengagungkan beliau. Sosok Habib Abdul Qadir dalam kesehariannya dikenal sebagai pribadi yang ramah tamah, murah senyum dan dermawan. Semua orang yang mengenalnya, pasti akan mencintainya. Tidak heran bila para auliya’ di jamannya banyak memuji dan mengagungkan beliau. Salah satunya, Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas, beliau selalu mengunjungi semasa hidup mau pun sesudah wafatnya. Wali Kramat dari Empang, Bogor itu bersyair dengan pujian,”Telah bertiup angin segar dari Kota Tuban….” Auliya lain yang sering mengunjunginya adalah Habib Ahmad bin Abdullah Alattas, Pekalongan dan Habib Abdul Qadir bin Quthban. Habib Abdul Qadir bin Alwy As-Segaf dilahirkan di Seiwun pada tahun 1241 H. Sejak kecil ia telah dididik secara khusus oleh paman beliau, Habib Abdurrahman bin Ali Assegaf. Oleh sang paman, Habib Abd

al Habib Umar bin Ja'far as-Saqqaf (Palembang)

Gambar
  Beliau R.a adalah kakek dari Habib Hasan bin Ja’far Assegaf. Beliau lahir tahun 1889 di kota Palembang. Ayah beliau Al Habib Ja’far adalah seorang saudagar besar dan beliau mempunyai saudara Al Habib Ali bin Ja’far Assegaf yang pertama kali di Indonesia menukil silsilah para habaib di Indonesia. Dimasa kecil beliau menghafal : Hadits Arbain An Nawawiyyah Zubad (kitab) Kitab Muwatto Imam Malik pada usia 15 tahun Pada umur 20 tahun beliau berguru dengan Al Habib Ahmad bin Hasan Alatas, Hadhramaut dan Al Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al Habsyi. Lalu melanjutkan pergi haji yang pertama pada usia 25 tahun. Kemudian beliau menuju ke Palembang dan bersyiar dengan sahabat beliau Al Habib Alwi bin Syeikh Assegaf. Disitu beliau bertemu dengan ulama–ulama besar diantaranya Al Habib Abdullah bin Muchsin Alattas sekaligus guru beliau. Pada umur 30 tahun beliau menuju Surabaya, Madiun, Jepara, Semarang, Pekalongan, Tegal, Cirebon, dan menikahi putri pondok pesantren “Buntet” K.H A

Al Habib Nuh bin Muhammad Al Habsyi (SINGAPURA)

Gambar
Dikisahkan bahwa Kiyai Agung Muhammad bin ‘Abdullah as-Suhaimi BaSyaiban memang selalu mengamalkan bacaan maulid Junjungan Nabi s.a.w., tetapi kadangkala beliau meninggalkannya. Pada satu malam, beliau bermimpi dan dalam mimpi tersebut beliau bertemu dengan Junjungan Nabi s.a.w. dan Habib Nuh yang ketika itu sudah pun berpulang ke Rahmatullah. Dalam mimpi tersebut, Habib Nuh sedang mengiringi Baginda Nabi s.a.w. yang sedang berjalan di hadapan rumah Kiyai Agung, lalu Habib Nuh pun berkata kepada Baginda Nabi s.a.w.: “Ya RasulAllah, marilah kita ziarah rumah kawan saya Muhammad Suhaimi.” Tetapi Junjungan Nabi s.a.w. enggan berbuat demikian sambil bersabda: “Saya tak hendak menziarahinya kerana Muhammad Suhaimi ini selalu lupakan saya, karena dia selalu meninggalkan bacaan maulid saya.” Habib Nuh merayu kepada Baginda Nabi s.a.w.: “Saya bermohonlah kepada tuan supaya dia diampuni.” Setelah itu baharulah Junjungan Nabi s.a.w. mahu masuk dan duduk di dalam rumah Kiyai Agung.

al Habib Muhsin bin Umar Al Atthas

Gambar
Ketika hendak memulai menulis biografi pendiri pondok ini, saya bingung harus memulai dari mana. Dan saya juga merasa tidak berhak untuk menulisnya. Itu tidak lain, karena orang ini, adalah orang yang teramat mulia di mata saya, dan tentunya di mata semua orang yang pernah mengenalnya, pernah bersama dengannya dan tarlebih lagi di mata orang-orang yang pernah belajar darinya. Siapa yang kenal nama ini, dan siapa pula diantara kita yang belum pernah mengenalnya. Tapi saya yakin, bahwa Anda sekarang penasaran ingin mengenal lebih jauh lagi tentang guru kita ini. Beliau adalah seorang ulama yang merupakan keturunan RasululLah shallallahu ‘alaihi wasallama dari Sayyidina Husein ra, dari qabilah al-Atthas, salah satu Qabilah ‘Alawiyah besar di Hadhramaut Yaman Selatan. Hadhramaut memang terkenal sebagai daerah tempat bermukimnya Ba‘Alawi, para keturunan Sayyidina Husein radhiya Allahu ta’ala ‘anhu dari Syekh Ahmad Al-Muhajir rahimahu Allahu yang berhijrah dari Irak ke Hijaz.

al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih (Malang)

Gambar
  Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih Al-'Alawy dilahirkan di kota Tarim, Hadramaut, pada hari selasa 15 safar tahun 1316 H / 1896 M. saat bersamaan menjelang kelahirannnya, salah seorang ulama besar, Habib Syaikhan bin Hasyim Assegaf, bermimpi bertemu Sulthanul Auliya Syekh Abdul Qasdir Jailani. Dalam mimpi itu Syekh Abdul Qadir Jailani menitipkan kitab suci Al-Qur'anul karim kepada Habib Syaikhan bin Hasyim Assegaf agar diberikan kepada Habib Ahmad bin Muhammad Bilfaqih. Pagi harinya Habib Syaikhan menceritakan mimpinya kepada Habib Ahmad. Habib Ahmad mendengarkan cerita dari Habib Syeikhan, kemudian berkata :  "Alhamdulillah, tadi malam aku dianugerahi Allah swt seorang putra. Dan itulah isyarat takwil mimpimu bertemu Syekh Abdul Qadir Jailani yang menitipkan Al-Qur'anul karim agar disampaikan kepadaku. Oleh karena itu, putraku ini kuberi nama Abdul Qadir, dengan harapan Allah swt memberikan nama maqam dan kewalian-Nya sebagaimana Syekh Abdul Qadir.&q